Aku memegang teteknya. Bokep Mom Kesempatan tidak akan datang dua kali. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Masih menutupi diri dengan tabloid. Haruskah kujawab sapaan itu? Aku masih ingat sepatunya tadi




















