Kami duduk di sofa, tempat kami tadi melakukan sebuah permainan cinta, dengan rasa sesal yang masing-masing berkecamuk dalam hati. Tangannya terus saja menggerayangi sekujur tubuhku. Bokeb Tidurlah, besok kamu harus bangun khan..”Aku hanya tertunduk tanpa bisa berbuat apa-apa. Namun suara hujan yang kian menderas, serta situasi rumah yang hanya tinggal kami berdua, serta bisik goda yang aku tak tahu darimana datangnya, kesemua itu membuat kami berdua semakin larut dalam permainan cinta ini. Untung kamar mandi bagi pembantu di keluarga ini letaknya ada di belakang jauh dari jangkauan tuan rumah. Hanya desahan yang terdengar dari mulut mereka berdua.“aduh Wan…terus… Akh.. Tetapi yang terjadi Mas Iky justru berkata kepadaku, “Nggak usah, Sienny. Yaaa terus Wan yang kerasss akhh Wan yeah…terus akhh…”“Akh teh Wawan mau keluarehh akh teh… sss..




















