Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aq masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Bokeb Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Aroma asli seorang perempuan. Tetapi berlari. Mbak Iin sudah turun. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Dadaku mulai berdegup lagi. Aq tiduran sambil baca majalah yg tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Tetapi, bayangan itu terganggu. Dingin. Aq makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Aq masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aq ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.




















