Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarahpada Junior. Bokep Alamak.., jauhnya. Lihatlah, masak ia begitu berani tadimenyentuh kepala Junior saat memijat perut. Lha wongMbak Wien menutupi wajahnya begitu. kataseorang wanita setengah baya di depanku pelan.Aku tersentak. Aku masih di atas angkot.Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku.Masih menutupi diri dengan tabloid. Atau maugunting? Haruskahkujawab sapaan itu? Jam berapa aku berangkat. Esoknya,dari rumah kuitungitung waktu. Dari iramanya bukan sedangberjalan. Si Junior melemah.Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Haruskahkujawab sapaan itu? Ayo..!Mbak.., pahaku masih sakit nih..! Sengaja kuperlihatkanagar ia dapat melihatnya. Jam berapa aku berangkat. Juniorku tegang seperti mainananakanak yang dituip melembung. Nafasnya tercium hidungku. kataku.Ya itu.Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik ditelingaku di atas ranjang yang putih. Tapi masih terhalang kain celana. Juniorku tegang seperti mainananakanak yang dituip melembung. Payudaraitu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Garis setrikaannyamasih terlihat. Lalu dikocokkocok




















