Dia menyentuhnya. ”
Semua penumpang menoleh ke arahku. Film Porno Dia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. “ Halo..? Dia tersenyum ramah. Aku berhasil. Ke bawah lagi: Turun. Di mana? Aku harus memulai. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan. Tetapi, bayangan itu terganggu. Aku pun segan memulai cerita. Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Bibirku melumat bibirnya. Aku tidak tahan. ” kataku. Aku mengurungkan niatku. Mbak Fera merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. ” katanya. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. ” ujarnya merajuk. Darahku mendesir. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tidak berpakaian kini. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat badanku dan lebih sedekit. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di badanku. Badannya berbalik lalu melangkah. Aku tidak dapat lagi memandanginya. Aku hanya mendengus. Aku terpejam menahan air




















